nikenepr

Just another WordPress.com site

Tetap SEMANGAT

Bismillah

 

01 Oktober 2012 setelah upacara memperingati Hari Kesaktian Pancasila, saya coba ajukan untuk dapat mengikuti Kursus IR ODP Batch II 2012 (Industrial Relation Officer Development Program) yakni pelatihan mengenai ketenagakerjaan khususnya yang berkaitan dengan Industrial Relation (hubungan industrial menyangkut hal dan kewajiban Pekerja dan Pengusaha).

 

Kursus ini akan dilaksanakan tanggal 08 Oktober 2012 – 12 Oktober 2012 di Pertamina Learning Center Simprug Jakarta, nama saya pun ada dalam daftar panggilan kursus, hanya yang menjadi kendala adalahhhhhh … tanggal 08 oktober teh saya sudah cuti hamil (tmt 3 Oktober 2012 dan sudah di acc Manager pula). Padahal sayang banget kalau dilewatkan.

 

IRODP itu salah satu kursus wajib untuk HR, khususnya untuk pekerja bagian IR (Saya pan bagian IR di RU III). Kalau saya lewatkan, waduh sayang banget, ilmunya itu lhooo, apalagi 3 minggu sebelumnya baru menangani 4 kasus tindakan indisipliner, jadi otak saya masih fresh dan insyaAllah sedang semangat-semangatnya untuk mencari ilmu plus juga suami kan insyaAllah akan dinas di Jakarta pada tanggal yang sama😀 jadi bisa menginap bersamaaa, lumayan kan sekali dayung 2-3 pulau terlewati \(^0^)/

 

Tapi eh tapi sampai sekarang pengajuan kursus saya belum di acc atasan. Alasannya : “Niken kamu kan sedang hamil, tanggal 3 juga sudah cuti, udah kamu fokus aja sama persiapan melahirkan, nanti kalo ada apa-apa di kelas saya sama Manager kena tegur atasan di pusat”.

 

Saya masih keukeuh : “Iya Pak, tapi kursusnya kan di Jakarta, deket Bandung, dari Bandung saya bisa naik kereta jadi nggak terlalu cape, nanti saya nginepnya di PLC biar gak terlalu jauh atau nyari hotel sekitar Simprug”

 

Atasan : “liat itu perut udah besar, IRODP itu kursusnya berat lho, seharian duduk di kelas, dari jam 7 pagi sampai maghrib, kamu kan harusnya banyak jalan. Tunggu aja tahun depan kan masih ada.”

 

Saya mikir-mikir kalo tahun depan berarti insyaAllah sedang menyusui : “Kalau tahun depan saya udah ada Bayi pak, khawatir lebih repot harus bawa2 bayi dari Palembang ke Jakarta (kalau di Jakarta).”

 

Atasan : “Enakan tahun depan, siapa tau diadakannya di Bandung, jadi bisa sekalian pulang kampung. Gimana? Pikirkan dulu aja ya, kan lagi hamil udah 8 bulan lagi, nanti ada apa-apa bisa gawat”

 

Saya “ Itu dia pak, mumpung masih hamil, apalagi sedang cuti 3 bulan Niken gak akan ada kegiatan, setidaknya ingin ikut kursus biar nambah ilmu, kalau masalah cuti, saya gak dipotong juga cutinya gpp kok, saya pengen banget Pak, ilmunya sayang.”

 

Atasan : “oohhh, yaudah kalo pengen ilmunya, kamu copy aja materi IRODP Pak XXXXX kemarin (Salah satu rekan saya yang baru pulang kursus IRODP Batch I 2012), baca-baca, kalau mau sekalian bantuin kerjakan tugasnya, biar ilmu kamu lebih mateng.” *Sambil senyum*

 

Saya *dalam hati : yahh gak dapet sertifikatnya dong -_- … “Oke deh Pak, tapi tolong dipikirkan lagi ya Pak, insyaAllah saya siap koo untuk Kursus”. *Memelas*

 

Jadi yah begitulah,,, apapun keputusannya, saya bisa ikut kursus atau enggak, insyaAllah itu yang terbaik.. dan lagi memang iya, duduk seharian itu bikin pegel punggung (selama hamil). Yah pokoknya tetap SEMANGAT \(^0^)/ *sambil berjalan ke arah meja Bapak XXXXX untuk mengopy soft-file materi IRODP😀

 Palembang, 01 Oktober 2012

 

Tinggalkan komentar »

Maaf jika Membuat Kecewa.

Saya tiba-tiba ingat salah satu tulisan di Blognya Pak Jamil Azzaini yang berjudul hampir mirip dengan judul tulisan saya. Dalam tulisannya Pak Jamil menjawab salah satu ‘complain’ dari followernya di twitter tentang sikapnya yang bercanda-canda (bermain tebak-tebakan) dalam akun twitternya. Dengan bijak Pak Jamil meminta maaf telah membuat followernya kecewa, namun disisi lain Pak Jamil pun menerangkan bahwa dirinya adalah manusia biasa yang tidak sempurna, tidak mungkin dirinya terus menerus menampilkan kesempurnaan, karena baginya sikap apa adanya jauh lebih baik dari pada harus ‘jaim’ tapi sikap antara ruang soc-med dengan sehari-hari berbeda.

 

Kejadian yang sama terjadi pada saya beberapa waktu lalu. Seorang teman mengirimkan email yang menurutnya hanyalah meneruskan semacam ‘complain’ dari temannya yang lain atas sikap Pasutri yang LDR di soc-med  (saya dan suami sedang menjalani LDR). Sikap yang dimaksud adalah sikap yang menunjukan kemesraan di ruang twitter yang adalah ruang publik, sehingga membuat teman dari teman saya itu merasa risih dan sempat ‘curhat’ dengan teman saya tersebut, kemudian atas saran teman saya tadi, yang bersangkutan memilih untuk me-mute akun twitter pasutri LDR tersebut, yang bisa jadi sebenarnya menunjuk pada saya dan suami.

 

Seperti halnya Pak Jamil, saya atas nama pribadi meminta maaf jika ada teman-teman yang merasa kecewa atau risih dengan sikap saya dan suami di soc-med manapun yang menunjukkan kemesraan. Baik itu berupa postingan foto-foto kami yang sedang berdua (tapi dijamin tidak ada foto yang perlu disensor), maunpun ungkapan-ungkapan sayang.

 

untuk yang merasa terganggu, anda berhak me-mute atau unfollow atau block akun manapun yang dirasa mengganggu, itu adalah hak anda. Namun sebagai makhluk sosial di era digital ini, terjun ke dunia soc-med memang perlu kebesaran hati dan keluasan empati karena tidak semua yang kita harapkan ada disana.

 

Seperti juga pak Jamil, saya mempunyai alasan tersendiri. Saya bukanlah manusia sempurna yang segala sikap dan tutur katanya dapat menyenangkan setiap orang. Saya hanya ingin menjadi diri saya sendiri,  tidak mau menjadi ‘jaim’ di ruang-ruang publik, beginilah saya apa adanya : ekspresif menyatakan apa yang saya rasakan. Apa hendak dikata, LDR memaksa kami mengoptimalkan seluruh saluran dimana kami bisa ‘bertemu’. Jarangnya bersua dan kurangnya waktu kebersamaan secara fisik kami coba reduksi dengan memanfaatkan kebersamaan di seluruh ruang yang memungkinkan untuk berkomunikasi dan mengekspresikan rasa.

 

Lalu, apakah salah mengekspresikan cinta? Apalagi ini adalah cinta yang halal.

 

Namun saya tetap berterimakasih pada kejadian ini. setidaknya membuat saya tiba-tiba semangat menulis lagi setelah vakum berbulan-bulan (kecuali menuliskan analisa dan kronologis kasus-kasus ketenagakerjaan yang sedang ditangani :D), dan merasa terberkahi karena dengan memiliki Pekerjaan dan sejumlah kesibukan yang nyata dan berdampak manfaat bagi perusahaan, sehingga saya pribadi hampir tidak ada waktu untuk mencampuri urusan orang lain. J

 

Palembang, 27 September 2012

 

 

1 Komentar »

Mulutmu Harimaumu

Mulutmu, harimaumu. Sekarang saya baru benar-benar paham arti peribahasa ini. Jaga lidahmu, lebih luas lagi adalah jaga perkataan, pernyataan dan perilakumu, karena ia bisa jadi akan balik menerkammu.

Di jaman instan dengan generasi yang saling terkoneksi satu sama lain melalui jejaring sosial, social media dan grup-grup dalam BBM, sering kita dihadapkan pada kondisi asyik membahas sebuah isu. Perlu kecerdasan, kebijaksanaan dan pengendalian diri yang baik dalam menanggapi setiap isu yang bergulir. Namun memang seringnya saat ada sebuah isu yang ‘sexy’ dan kita merasa tahu jawaban atas isu tersebut, mulut ini iseng ingin komentar, jari gatal ingin mengetik dan melemparkan pernyataan kita pada forum, sebisa mungkin dengan bahasa yang sopan. Namun bahasa tulisan berbeda dengan bahasa lisan. Ketiadaan intonasi dan miskinnya rona wajah (emoticon belum cukup memuaskan kebutuhan ini) sering membuat lawan bicara salah persepsi. Maksud kita sopan, namun karena dianggap menyerang akhirnya timbullah miss-communication, miss-understanding, dan miss-miss yang lain sehingga hubungan yang tadinya harmonis menjadi mencekam.

Kejadian ini terjadi pada saya sendiri. Kejadiannya dimulai saat ada seorang senior meneruskan pesan resmi dari VP Komunikasinya perusahaan tempat saya bekerja dalam sebuah grup BBM yang berisi Pekerja HR Refinery Directorate (membernya macam-macam, mulai dari manager tertinggi sampai level anak baru masuk seperti saya). Ada sebuah tanggapan yang menarik perhatian saya dari seseorang yang id nya adalah nomor pin dan fotonya adalah icon, sederhananya dia anonim. Karena ketidaktahuan siapa yang saya ajak bicara namun disisi lain merasa perlu meluruskan statement yang bersangkutan (saya mengetahui pasti jawaban atas pernyataan yang bersangkutan) dan saya menyadari forum ini adalah forum dari bernagai usia dan angkatan masuk (dan berbagai jabatan) sehingga demi kesopanana saya menyapa id anonim tersebut dengan panggilan “mas/mbak” kemudian meluruskan pernyatannya. Rupanya yang bersangkutan tersinggung. kemudian ada senior saya yang lain yang mengirimkan BBM “Nabari Padia itu angkatan Pak Amirsyal, dia atasan gue waktu di Jakarta.” Oohh rupanya Id anonim itu adalah Pak Nabari,, saya baca ulang pernyataan saya tadi malam. Sudah sangat sopan dan baik, jika beliau merasa terserang atas komentar saya yang mencoba meluruskan pendapat beliau, saya kira akan lebih bijak jika kami saling memahami kondisi, bukan lantas saling perang dingin.

Ini adalah satu pelajaran penting dalam hidup. Tidak selamanya maksud yang kita sampaikan dengan baik akan diterima dengan baik dan lapang dada, karena hanya orang dengan kebijakan dan pengendalian diri yang baik yang mampu menerima setiap kritikan, masukan, koreksi, dan saran 

Tinggalkan komentar »

Tinggalkan komentar »

TITIPAN MANIS

Image

Setelah sekian lama tidak menulis, akhirnya aku coba menulis lagi…. kali ini tentang Pak Edi, my someone special🙂

———————–

Kurus, keriput, kecil, tua, dan berkulit gelap. Tapi jalannya lincah dan selalu memasang senyum lebar menutupi geliginya yang telah tanggal. Wajahnya mengingatkanku pada Haji Tile, aktor lawas yang telah berpulang. Kemana-mana dia bersepeda. Warnanya merah marun, baik di keranjang maupun di boncengan belakangnya telah penuh dengan berbagai dokumen yang akan diantarnya. Namanya Pak Edi, beliau adalah pengantar surat di kantor tempatku bekerja.

“Hai!” Seru Pak Edi menyapa, “Harap maklum” katanya dengan suara kecil namun nyaring  sambil menyalamiku di suatu pagi saat baru sampai di kantor.

Saat  itu adalah minggu pertamaku di kantor baru, dan aku hanya bisa menyernyit sambil memaksakan tersenyum membalas salaman tangannya. Baru beberapa hari kerja langsung disapa makhluk unik. Pikirku saat itu.

“Pak edi tuh pulang pergi dari rumah ke kantor naik sepeda lho” Seseorang bercerita padaku.

“sebenarnya Pak Edi tuh udah pensiun, Cuma sering datang bantu-bantu kirim surat. Dia gak digaji lho ken, Cuma orang-orang kadang suka ngasih uang”

Hooo…

Kupikir orang seusia Pak Edi kok masih mau ya naik sepeda jauh-jauh dibawah teriknya matahari dan cuaca Palembang yang menurutku sangat panas. Itulah sebabnya pertemuan-pertemuan selanjutnya dengan Pak Edi kutempelkan selembar uang saat bersalaman dengannya. Nilainya tidak besar, tapi kuharap bisa menolongnya.

Salam tempel itu tidak selalu kulakukan, kadang saja kalau kebetulan uangku berlebih. Tapi sejak salam tempel yang pertama, di mana pun aku bertemu dengannya, Pak Edi selalu merogoh sakunya dan memberiku 2 atau 3 buah permen. Selalu. Setiap hari.

Saat dia akan mengantar surat ke mana pun di Ruang HR gedung Avigas (tempat kantorku), maka dia akan berbelok menuju mejaku dan memberiku titipan manis. 2 atau 3 buah permen setiap hari. Berbagai rasa. Dan selalu membuatku tersenyum. Sampai hari ini, semua orang di kantor akan langsung menyambut Pak Edi jika beliau datang dengan memanggilku.

“Ken, tuh pacarnya datang”

Dan tak berapa lama kemudian Pak edi menghampiriku dan memberiku 2 atau 3 buah titipan manis. Permen berbagai rasa.

============

Hikmah:

Apa yang dilakukan Pak Edi mungkin kecil, tapi shodaqoh-nya berupa permen selalu membuat saya senang. Kupikir jika kita punya kemampuan akan lebih baik jika shodaqoh dilakukan setiap hari, meski kecil namun berkelanjutan (istiqomah). Wallohualam J

 

Plaju, 16 Desember 2011

3 Komentar »

Refresh

Sedang mumet karena harus menyusun Surat Keputusan dan Surat Edaran tentang tarif Transportasi Perjalanan Dinas yang baru disetujui oleh GM (Alhamdulillaaahhh usulan saya di acc :p) ditambah harus menganalisa tentang Tarif KJK pekerja Madya karena TKO-nya belum ada -_-” tanpa sengaja saya baca tulisan teh Ier tentang Teknologi Taaruf saya berasa di-refresh… jadi inget proses taaruf saya sama si aa juga lewat YM dan email karena terpisah laut jawa hehehe… semoga prosesnya lancaaarrr, dan pernikahan kami barokah. amiiinnnn … # H-70 menuju Mrs. Badrazamani :p

Bismillahhhh…. ^^

3 Komentar »

Dua : kenal

 Lanjutan dari catatan yang berjudul “Satu : Awal”

 

“Ini niken mana ya? Saya lupa.” Kurang lebih seperti itulah komentarmu di facebook tidak berapa lama setelah kita resmi berteman di dunia maya.

 

“ini Niken temennya kang Husna” dan seperti itulah kira-kira jawabanku.

 

Husna Nugrahapraja, sahabatmu itu, adalah penumpang kereta yang duduk sebangku denganku dalam perjalanan menggunakan Argo-Parahyangan dari Bandung ke Jakarta awal Desember 2009. Kami berkenalan, berbincang dan melanjutkan silaturahmi kami melalui Facebook (saat itu sedang booming) dan melalui facebooknya aku menemukan fotomu yang menghebohkan itu.

 

Entah mengapa saat melihat nama ‘Dani Badrazamani’, aku merasa ada sesuatu yang menarik di sana. Bisa jadi karena namamu adalah ‘Dani’ yang mengingatkan aku pada seorang sahabat semasa SMA, atau karena ‘Badrazamani’ yang rasanya terlalu unik untuk ada dua atau lebih di dunia ini, dan bisa pula karena komentarmu dalam foto itu yang menukil sebuah Hadist yang membuatku kagum: jaman sekarang masih ada laki-laki muda berusia 22-23 tahun, lulusan Institut terbaik di Indonesia, modern namun masih memegang teguh keislamannya bersama-sama dengan teman-temannya yang saling bersahut-sahutan saling menasehati dan saling mengingatkan. Luar biasa.

 

Kemudian, hanya dengan beberapa kali ‘klik’ pada menu di tampilan facebook, aku sudah mengirimkan permintaan pertemanan padamu. Untungnya kamu adalah tipe orang yang akan mengkonfirmasi siapapun yang mengirimkan permintaan pertemanan, sehingga tak perlu waktu lama kita pun ‘resmi’ berteman di Facebook.

 

“Niken kamu mirip Nikita Willy ya?” komentarmu suatu hari setelah kita berteman. Asal tahu saja, kamu bukan orang pertama yang mengatakannya, ada security di kantor pusat PT. Telkom, tempat aku magang di bulan Juli-September 2009 yang hampir setiap hari memanggilku dengan sebutan “nikita”. Sepupuku yang masih SMA pun mengatakan hal yang sama, “Nikita Willy berkerudung”.

 

Aku hanya tertawa menanggapinya. Lucu juga bagaimana orang-orang bisa memutuskan aku mirip seorang artis padahal sebenarnya tidak mirip. Sekilas mungkin iya. Jika difoto dari angle tertentu mungkin juga iya. Tapi aku lebih mirip Mama kok.

 

“Niken kamu teh penyiar radio apa?” tanyamu dalam sebuah pembicaraan. Aku penyiar di radio Paramuda, sebuah radio olahraga, dan aku seorang sportcaster, yang membacakan berita-berita olahraga. Tentunya pengetahuanku tentang olahraga pasti selalu update karena setiap pagi aku menyampaikan berita terbaru. Dan sejak itu kamu hampir selalu bertanya padaku tentang Persib.

 

Karena komentarmu itu dan sikapmu yang terbuka, pada akhirnya kita menjadi akrab di dunia maya. Denganmu—yang sebenarnya belum pernah kutemui—aku merasakan rasa betah berlama-lama online sampai tengah malam hanya demi saling berbalas komentar denganmu di sebuah status. Rasanya mengasyikan saling balas ‘poke’ denganmu sampai kita menamainya Pokemon, membaca semua note-mu dan aku tergugah untuk menulis note agar kamu membacanya, melihat aktifitasmu, mengirimkan permintaan pertemanan pada teman-temanmu, bertukar alamat YM agar bisa saling menyapa di sana, sampai mencari tahu siapa ‘Ade’ yang dimaksud dalam cerpen yang kamu rekomendasikan untuk ku baca. Akhirnya aku menyimpulkan dia adalah seseorang yang teramat spesial untukmu sampai kau buat cerpen yang menurut pengakuanmu dibuat dalam waktu 6 jam nonstop, “berhenti kalau sholat aja” ujarmu. Kamu tahu bagaimana perasaanku? Entah mengapa aku sedikit sedih.  Ternyata telah ada seseorang dalam hatimu meskipun statusmu ‘single’ yang kemudian aku tahu rupanya dia kasih tak sampai-mu😀 hihihi maaf aku tiba-tiba kegirangan saat itu.

 

“Niken kamu mah online wae” ujarmu mengomentari aktifitasku di dunia maya yang hampir selalu jadi yang pertama me-‘like’ atau mengomentari statusmu. Kupikir-pikir, benar juga ya, sebelumnya aku tidak pernah seperti ini, mengapa aku begitu tertarik untuk mencari tahu semua tentangmu? Apalagi kamu sebenarnya orang asing. Meskipun kita sama-sama berasal dari Bandung, namun kita bahkan belum pernah saling bertemu. Kamu ada di Lampung, bekerja di salah satu Pembangkit Listrik di sana, terpisah selat sunda dariku yang tinggal di Bandung dan masih berstatus mahasiswa tingkat akhir di Fakultas Hukum Unpad.

 

Aku seharusnya fokus pada skripsiku dan fokus untuk jadi penyiar yang baik di Bandung.

 

Tapi memang sulit untuk fokus.

 

“Niken minggu ini saya pulang lho ke Bandung” rasanya seperti baru memenangkan kejuaraan, aku begitu excited dengan rencana kedatanganmu. Dalam sms sebelumnya kita pernah membahas tentang Bakso Malang Karapitan. Kamu mengaku belum pernah mencobanya karena di dekat rumahmu ada tukang Bakso, Mas Eko yang menurutmu adalah penjual Bakso terenak. “Nanti pas saya pulang ke Bandung makan Bakso Malang Karapitan yuk.” Ajakmu.

 

“Asyiiikkk ditraktir” ujarku.

 

“Niken yang nraktir? asyiiikkkk” tanyamu jahil.

 

“Gak mau, ka dani dong yang nraktir, Niken bayar minumnya aja gimana?”

 

Dan kita sepakat. Saat kamu pulang nanti, kita akan bertemu untuk pertama kali di Bakso Malang Karapitan Jalan Merdeka.

Tinggalkan komentar »

negeri insekta (cerita anak)

Suatu hari di negeri insekta yang merupakan kerajaan serangga sedang bersiap-siap menyambut datangnya musim hujan. Musim hujan adalah saat-saat yang ditunggu oleh seluruh negeri karena di musim inilah tanah menjadi subur dan gembur, maka diundanglah seluruh serangga di negeri Insekta untuk jamuan makan yang disediakan oleh Raja dan Ratu lebah sebagai pemimpin negeri Insekta. Jamuan makan itu sebagai tanda syukur kepada Allah dan juga sedekah, yang sengaja disediakan untuk rakyat di negeri Insekta yang telah lama dirundung kemarau berkepanjangan sehingga banyak yang jatuh miskin dan tidak punya makanan.

 

Semua serangga mulai berdatangan ke Istana. Ada keluarga Nona nyamuk belang, keluarga lalat Atun, Oom Jangkrik krik krik, Tuan Belalang Tempur, Nona Semut Imut, sampai keluarga yang paling miskin yaitu keluarga Bapak kecoa wawa, semuanya hadir dan diundang.

 

Ady si Laba-laba yang tidak mendapatkan undangan hanya bisa bersedih, dan melihat dari jauh. Dia pun merasa lapar dan ingin ikut serta dalam jamuan makan serangga. Karena perutnya semakin keroncongan dia lalu memberanikan diri untuk ikut masuk.

 

“Badanku juga kan kecil sama seperti serangga lain” begitu pikirnya.

 

Lalu dia berjalan bersama-sama dengan rombongan keluarga Mr. Kumbang yang bertubuh gemuk. Mr. Kumbang menyapanya dengan ramah dan mereka berbincang sepanjangan jalan menuju istana.

 

“Undanganku sempat salah alamat, untungnya pengantar undangan segera menyadari kesalahannya dan mengantar undangan itu padaku.” Seru Mr. Kumbang menceritakan bagaimana akhirnya ia sampai bisa diundang oleh kerajaan.

 

“mungkin undanganku pun salah alamat,” pikir ady si laba-laba. Jadilah dia dengan berjalan menuju istana dengan langkah yang ringan.

 

Sesampainya di gerbang Istana, beberapa prajurit lebah melakukan pemeriksaan. Keluarga Mr. Kumbang diperiksa terlebih dahulu dan mereka diperbolehkan masuk, saat giliran Ady si laba-laba yang diperiksa, dia tidak diperbolehkan masuk oleh prajurit lebah.

 

“Maaf, kamu bukan serangga, jamuan makan ini khusus disediakan bagi serangga”

 

“hah? Aku juga kan berukuran hampir sama dengan Mr. Kumbang dan yang lain, mengapa aku tidak boleh masuk?”

 

“lihat tubuhmu. Kami serangga memiliki 3 pasang kaki, sementara kamu laba-laba memiliki 4 pasang. Kami serangga bersayap yang memungkinkan kami untuk terbang, sementara kamu laba-laba tidak memiliki sayap dan tidak mampu terbang. Kami serangga memiliki sepasang antena, sementara kamu tidak punya. Jadi kamu bukan bagian dari kami, maaf, namun hanya serangga yang diundang ke jamuan ini.”

 

Dengan sedih Ady si laba-laba meninggalkan istana dan mulai menangis, meratapi nasibnya yang tidak memiliki bangsa.

 

“Jadi aku ini masuk termasuk apa jika bukan serangga?” tanyanya lirih.

 

—————————————————————————————-

Laba-laba jelas-jelas bukan serangga.

Di kalangan masyarakat sering terjadi salah kaprah yang menempatkan laba-laba sebagai bagian dari serangga. Padahal laba-laba dan serangga sangat berbeda dalam berbagai hal. Mudahnya dilihat dari morfologi, berikut perbedaan antara laba-laba dan serangga.

Laba-laba

– Tubuh terdiri dari 2 bagian, cephalotorak dan abdomen

– Kaki 4 pasang

– Alat mulut berupa chelicera

– Tidak ada antena

 

Serangga

– Tubuh terdiri dari tiga bagian; kepala, thorak, dan abdomen

– Kaki 3 pasang

– Alat mulut bervariasi, disesuaikan dengan tipe makanan

– Sepasang antena

Lalu masuk kategori apakah laba-laba?

Laba-laba, atau disebut juga labah-labah, adalah sejenis hewan berbuku-buku (arthropoda) dengan dua segmen tubuh, empat pasang kaki, tak bersayap dan tak memiliki mulut pengunyah. Semua jenis laba-laba digolongkan ke dalam ordo Araneae; dan bersama dengan kalajengking, ketonggeng, tungau —semuanya berkaki delapan— dimasukkan ke dalam kelas Arachnida. Bidang studi mengenai laba-laba disebut arachnologi.

Jadi jangan salah mengenali ya ^^

 

Niken Rosady

Plaju, 21 oktober 2011

 

Dari berbagai sumber J

1 Komentar »

kontempelasi : film horor

Apa jadinya jika malam hari, kau hanya berdua saja di kamar dengan room-mate mu, dan dia telah tertidur pulas sementara televisi di kamar menampilkan adegan film horor?

 

Yang pasti aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari TV, padahal dihadapanku laptop menyala dan menampilkan BAB III KKW (tugas akhir pendidikan yg sedang kujalani) sedang menanti untuk segera diselesaikan.

 

Sebenarnya malam itu sudah aku alokasikan untuk menyelesaikan BAB III KKW sambil sesekali chat dengan seseorang. Saat sedang asyik mengetik, pandanganku sesekali melihat pada Televisi yang mulai menayangkan adegan-adegan yang cukup menarik perhatian: anjing-anjing penarik kereta salju tiba-tiba ditemukan mati. Helikopter ditemukan rusak. Dan adegan yang lebih menegangkan, saat hari mulai gelap, beberapa orang sedang bercengkrama di luar, salah satu dari mereka tiba-tiba ditarik secara paksa oleh seseuatu yang misterius diiringi teriakan-teriakan mengerikan.

 

Dan twala… akhirnya aku hanyut dalam ketegangan film 30 Days of Nights.

 

Film ini bercerita tentang vampir yang meneror penduduk kota Barrow di negara bagian paling utara Amerika yaitu Alaska. Diceritakan bahwa saat memasuki musim dingin kota ini secara rutin setiap tahun akan mengalami kegelapan (matahari tidak terbit) selama 30 hari. Kebanyakan penduduk memilih untuk menggunakan waktu 30 hari untuk berlibur di kota lain, hanya sebagian saja yang memilih untuk tetap tinggal. Tanpa mereka sadari, sekelompokvampir menyerang kota mereka, dan selama 30 hari kemudian kota Barrow menjadi tempat pembantaian penduduk oleh para Vampir.

 

Sebenarnya yang ingin aku ceritakan bukan tentang betapa dingin dan ngerinya film ini. Namun tentang rasa syukur sekaligus was-was yang aku rasakan setelah menyaksikan film ini.

 

Aku tidak bisa membayangkan jika para vampir itu benar-benar ada. Tentu akan sangat mengerikan, hidup dibawah tekanan dan bayang-bayang kematian karena diburu oleh Vampir. Setiap hari harus berpikir tentang strategi bertahan karena sulit untuk melawan akibat kekuatan yang tak seimbang. Melawan sama dengan bunuh diri. Bertahan sama dengan memperlambat kematian datang, karena cepat atau lambat penciuman mereka yang tajam akan menangkap baumu dan kau akan menjadi santapan mereka.

 

Vampir mungkin tidak nyata, tapi nyatanya banyak saudara-saudara kita yang hidup dalam tekanan dan penindasan. Kadang aku berpikir, “hari gini masih ada penjajahan?”. Astagfirullah, mungkin aku sering lupa pada saudara-saudaraku sesama muslim di Palestina yang setiap hari hidup dalam tekanan. Tembakan bisa meletus kapan saja, korbannya tak pandang bulu bisa orang tua atau anak-anak. Atau coba tengok para remaja di Irak yang tidak bisa bebas menikmati pendidikan dan hidup dalam bayang-bayang senapan dan tank setelah invasi Amerika yang katanya hendak mencari ‘senjata pemusnah massal’, justru malah mereka sendiri yang memusnakan ribuan rakyat Irak yang tak berdosa.

 

Film ini benar-benar membuatku berpikir jauh, sampai pada akhirnya aku bersyukur dengan kondisiku saat ini. Pagi aku bisa sarapan dengan tenang, siang bekerja dengan leluasa, dan sorenya aku bebas memilih untuk mengisinya dengan main sepeda, ikut senam aerobik atau menonton film korea. Aku bisa sekolah sampai sarjana, mendapat kesempatan bekerja, beribadah dengan merdeka, dan merencanakan masa depan dengan tenang. Kondisinya begitu nyaman bukan? aku tidak pernah merasakan tegangnya dikejar-kejar vampir atau senapan atau tank. aku yakin kamu pun tak pernah merasakannya. Bukankah ini sebuah nikmat?

 

Hey, pernahkah kau berhenti sejenak dan mensyukuri itu semua?

 

Bersyukur bahwa kita bisa menjadi bangsa yang merdeka. Bersyukur karena sejak lahir kita tidak pernah mengenal rasa was-was pada senapan atau bom yang dilancarkan Jepang atau Belanda atau siapapun yang menjadi penjajah. Bersyukurlah Pada Allah atas karunia dan nikmat yang luarbiasa ini, dan tak lupa doakan juga para pahlawan yang gugur memperjuangankan kemerdekaan negeri tercinta. Doakan mereka yang mengorbankan harta, jiwa dan raga untuk memastikan bahwa setiap anak di Indonesia dapat merasakan kemerdekaan, ketenangan dan bebas dari tekanan penindasan.

 

Jika saat ini kita merasa miris dengan kondisi bangsa yang yaaahhh begitulah… para politikus yang tak lebih dari sekadar poli-tikus (tikus yang banyak), hey pemuda, mungkin kalian sedih, tapi sedih saja tak cukup. Mari kita pertahankan kemerdekaan, perjuangankan persatuan, dan jadilah pemuda yang kreatif dan berbakti.

 

Mungkin kemarin kita adalah para pemuda yang malas dan terbuai kenyamanan, semoga sejak hari ini, sejak sadar bahwa semua nikmat ini adalah karunia dan akan dipertanggungjawabkan pada Allah, kita bisa menjadi lebih baik.

 

Dibawah ini adalah puisi tentang para pemuda yang meninggal di usia yang belia, demi sebuah cita-cita mulia : merdeka

KRAWANG-BEKASI

karya : Chairil Anwar

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

(1948)
Brawidjaja,
Jilid 7, No 16,
1957

 

Niken Rosady

17 Oktober 2011

Kamar No. 5 Wisma Flat Plaju-Palembang

23.03 wib

Menulis sambil setengah mengantuk.

 

 

catatan: puisi ini berhasil membuat aku menangis sesegukan waktu pertama membacanya sekita 1,5 tahun lalu. sangat mengena dan mengharukan.

 

Tinggalkan komentar »

pertanyaan

ini adalah pertanyaan-pertanyaan pertama dari taaruf yang kami jalani

ini sebagai pengingat bahwa proses yang sedang dijalani didasarkan pada kecintaan pada Allah, sebagai bentuk ketaatan kami.

ini sebagai pengingat bahwa kami sama-sama ingin membangun kaluarga yang bahagia di dunia dan akhirat

ini pun sebagai pengingat bahwa proses yang sedang berjalan ini bukan proses setengah hati.

email aa :

Assalamualaikum warohmatulloohi wabarakaatuh

Heyyyyyyyy,,,

Baiklah, dalam rangka saling bertanya dan menjawab, maka :

Jawablah soal-soal dibawah ini dengan jelas dan sesuai keyakinanmu !

  • Keluarga seperti apakah yang niken inginkan/dambakan ?
  • Sebutkan salah satu makanan favoritnya mamahnya niken?
  • Apa pendapat niken mengenai sosialisasi diri di masyarakat ?
  • Apa cita-cita niken waktu kecil ?
  • Apa pendapat niken mengenai istri yang bekerja ?
  • Hafal berapa surat al-qur’an kah niken?
  • Apa pendapat niken mengenai Belajar Islam yang berkelanjutan ?
  • Pingin jadi apa niken di dalam cerita Doraemon ?

Hehehe segitu dulu aja, nanti niken bales Tanya ka saya okeh ,,

Kalo saya jawabannya begini :

  • Keluarga yang diinginkan adalah keluarga yang dibangun atas dasar kecintaan kepada allah SWT.amin. Hidup ini tidaklah lama, paling sampe 60 taunan kan normalnya. Makanya rentang waktu itu harus dipake buat persiapan menuju seleseinya waktu. Salah satu persiapan yang penting adalah berkeluarga.

Yang itu adalah bagian dari sunnah nabi, yang itu merupakan menggenapkan setengah agama. Makanya keluarga yang dibangun pun adalah dalam rangka bersama mendekatkan diri ke Allah SWT. Belajar islam bersama. Saling menasehati dan menyemangati bersama. Saling menunaikan kewajiban dan hak nya masing-masing dalam rangka patuh dan beribadah kepada Allah. Berharap di dunia diisi oleh kebaikan dan bahagia, di Akhirat pun begitu.

Bagi saya, susah untuk nerima kalo ada keluarga yang hidupnya pisah-pisahan dalam jangka waktu yg lama. Berkeluarga itu ya harus barengan. Tapi kalo awal2 taun masih pisah ya ga masalah, tentu sambil difikirkan gimana caranya supaya barengan. Apa gunanya banyak uang kalo hidup ga tenang. Demikian. Sementara

  • Favorit makanan mamah saya salah satunya : Pempek. Makanya setiap sy dinas ka Palembang, sy selalu beli pempek bawa ke bandung. Yg 100 rebu pernah, yg 200 rebu pernah, yg 300 rebu pernah. Aneh si mamah ini. Orang ciamis asli ko senengnya pempek. Tapi kan cuka pempek itu aslina lada, makana kalo di rumah suka ditambah air deui pleus dikasih gula deui, jadi caina the encer teu lada. Hahahahaha
  • Sosialisasi diri di masyarakat itu perlu. Agar kita kenal, banyak teman, walaupun beda suku bangsa. Diawali denga kalo kenalan, perkrnalkan nama saya duluan. Bantu tetangga kalo ada perlu misalnya nitip barang beli di bandung atau bantu ngecet jalan. Menjadi bermanfaat bagi orang lain adalah sebaik-baiknya manusia, kata Nabi Muhammad. Dan barangsiapa yang memenuhi kebutuhan orang lain, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya. Dan juga kalo orang udah trust sama kita, maka ucapan, tindakan kita akan mudah diikuti oleh mereka. Maka pas kita bermaksud mengajak teman-teman kepada kebaikan, mereka akan respect kepada kita. Tidak merasa terpaksa, karena kita adalah teman
  • Cita cita saya waktu kecil : professor, supaya bisa bikin mesin waktu. Balik ke masa lalu, kemudian beli baso dengan harga yang lebih murah, uangnya dari masa depan. Dulu kan baso 500an pas jaman saya SD
  • Istri yang bekerja : Ga masalah. Pada prinsipnya asal bisa hidup bersama. Dengan istri bekerja, bisa sebagai aktualisasi diri, kebermanfaat pada ummat dan meh teu bosen di rumah terus.
  • Hafalan surat : Dulu sih pernah waktu kuliah juz 30 ampir hafal. Kurang 1-2 surat lagi. Tapi sekarang, karena jarang diulang-ulang, masyaallah saya the meni pamalesan hahahaha. Tapi tentu insyaallah ini sedang dalam program ngafalin lagi. Kenapa sih al-qur’an itu harus dihafal? Pahalanya bagus loh. Satu huruf aja dihitung satu nilai kebaikan. Berharap nanti ketika dihisab, nikai kebaikan2 hafalan itulah yang akan membantu kita. Dan tentu tidak sampe menghafal aja, tapi harus faham maksud ayatnya itu dan dilaksanakan. Sekarang gimana? Arti surat al ma’un aja sy ga tau. Saya ada temen loh anak itb yg hafal al quran semuanya. Edan . ckckckckc. Saya juga harus bisa, walaupun ga semua :p
  • Belajar islam yang berkelanjutan : WAJIB. Makanya saya ikut mentoring terus sejak smp. Sampe sekarang saya di lampung. Kenapa wajib : karena yang namanya belajar isalam itu wajib hukumnya. Masih banyak yang kita ga tau sebagai ummat nabi Muhammad. Harus apa kita di bumi, harus ngapain kita dan tentu saja bahwa yang namanya manusia itu sering lupa. Makanya dalam forum2 kajian yang rutin, intens itu bisa dalam rangka menasehati diri, mengingatkan kita semua akan tujuan hidup, dan muhasabah. Tapi, ya saya jujur. Meski saya udah rutin mentoring sejak dari SMP, tapi sy susah faham itu ilmu2nya. Temen2 sy yang lain udah jago2 asli lah. Kaya si rihan, si iwa, si husna, say amah ngerti yang sederhana2 aja. Hehehehe makanya kalo disuruh nge mentor, ya cocoknya anak SD, makanya jadinya guru TPA saja. Dulu disuruh ngementor anak mahasiswa, ya gacocok, Cuma 2x pertemuan ga jalan lagi. Anak sma pernah Cuma bertahan sabulan. Anak smp pernah tahan 1x ketemuan aja. Hehehe
  • Di Doraemon saya pingin jadi Nobita. Keren tau pas tamat ceritanya itu. Si Nobitanya jadi pinter beneran ngalahin dekisugi karena pingin bisa jadi ahli robot supaya bisa benerin doraemonnya itu. Dan kalo di cerita2 petualangan doraemon, kan suka jadi jagoan si nobita itu. Ahli nembak.

Sekian dan sampai jumpa lagi hehe

jawaban neng:

Assalamualaikum kang dani badrazamani, saya akan mencoba menjawab satu per satu. Jawaban yang saya jawab adalah jawaban saya saat kondisi pagi-pagi tanggal 17 April 2011. J

Jawaban Niken:

1.       Keluarga yang saya idamkan adalah keluarga harmonis, dekat satu sama lain, saling mendukung dan menjaga, intinya keluarga kecil dan bahagia. saya bahas satu-satu ya kang,,

a.       Harmonis: artinya ada keselarasan dan keseimbangan antara hak dan kewajiban anggota keluarga, yakni suami, istri, dan anak2. Ini maksudnya tiap anggota keluarga harus mengetahui dan memahami hak dan kewajiban masing-masing dan secara konsisten menjalankan hak dan kewajibannya tersebut. Yah berarti suami dan istrinya harus berilmu kan kang. Jadi mari kita belajaaarrr J (kenapa suami dan istri dulu, karena anak2 nantinya mendapat ilmu pertama kali dari Ibu dan Ayahnya, jadi Suami-Istri harus berilmu dan saling support untuk mencari ilmu dan saling melengkapi/ mengisi kekosongan).

b.      Dekat satu sama lain: dekat disini bukan hanya dekat secara fisik aja kang, tapi juga dekat secara emosional. Hubungan antara anak dan orangtua layaknya sahabat yang didsari penghormatan dan rasa saling menghargai. Oleh karenanya penting untuk tetap membuka komunikasi dan punya kegiatan bersama, misat tiap weekend ada jadwal beberes rumah bersama, atau makan2 di luar bersama untuk refreshing, ya kegiatan positif yang dilakukan bersama.

Niken juga pada dasarnya gak mau jauh2an sama suami, ngapain nikah tapi malah jauh2an? Hanya saja kondisi niken pada saat ini memaksa niken untuk menerima opsi hubungan jarak jauh apabila memang dihadapkan pada pilihan tersebut. Niken sudah memilih untuk bekerja di Pertamina, konsekuensinya sudah saya perhitungkan dari sebelumnya. insyaALLah saya ingin mengabdi di perusaaan setidaknya sampai ikatan dinas berakhir (kalau suami saya minta saya keluar, ya saya akan minta pengertian dia untuk mengizinkan saya bekerja dulu setidaknya sampai 4 tahun setelah saya diangkat) insyaAllah saya disini ingin berkontribusi pada perusahaan, karena rupanya perusahaan ini punya pengaruh besar terhadap bangsa ini. Itu barusan opsi terpahit, hehehhee, karena jujur hidup mah pilihan. Saya punya cita-cita jadi direktur di pertamina😀 itupun jika memungkinkan, namun saya sadar kodrat saya sebagai perempuan, insyaALLah akan ada suatu masa saya menjadi seorang istri dan seorang Ibu, tentu ‘karir’ di rumah tangga harus saya prioritaskan, jika memang work-life balance tidak memungkinkan saya untuk berkarir di Pertamina, InsyaAllah saya ambil opsi untuk keluar setalah ikatan dinas berakhir dan saya ingin membangun usaha sendiri sambil ngurus anak J

c.       Saling mendukung : artinya mendukung dalam kebaikan. Ini ada hubungannya dengan sikap menghargai. Baik menghargai pendapat, menghargai ide, usulan, cita-cita dan lain-lain. Saling mendukung berarti juga saling bantu, kalau ada kekurangan didukung untuk belajar bersama J

d.      Saling menjaga : maksudnya ini terkait dengan salah satu perintah Allah bahwa kita harus menjaga diri dan keluarga kita dari api neraka. Makanya niken pengen dari kecil anak2 saya nanti sudah dikenalkan dengan islam, misal, anak perempuan saya sudah saya kenakan kerudung dari sejak dini, sekaligus memberi pengertian pelan2 agar dia paham sejak kecil kenapa harus menutup aurat. Dikenalkan dengan perintah dan larangan agar ketika sudah dewasa ketika dia belajar dan mencari tahu sendiri, dia sudah punya bekal dan dasar yang kuat. Karena jujur niken gak mau anak2 niken dapet ilmu agama karena doktrin dari keluarga. Dia sholat karena ortunya sholat tanpa paham kenapa dia harus sholat, niken pengen anak niken mencari juga apa hakikat dia hidup di dunia, agar dia menjiwai setiap ibadah yang dia lakukan.

2.       Makanan Favorit mama saya salah satunya Pempek juga,, lalu gado-gado, lalu steak tenderloid yang beli di Tomodachi :p hahahaha itu kata mama saya sendiri lhoooo J

3.       Sosialisasi diri itu penting kang, kita hidup kan bermasyarakat kalau diem terus di rumah bagaimana kita bisa belajar dan berkembang, karena dengan bermasyarakat kita juga bisa bermanfaat untuk orang lain, misal bantuin tetangga motongin rumput atau kerja bakti bersihin comberan. Kan Kata Allah juga harus bersilaturahmi, ah akang mah pasti lebih paham dari saya J

4.       Cita-cita saya waktu kecil ingin jadi astronot karena saya pengen jalan-jalan ke bulan dan penasaran dengan lubang hitam, saya juga pernah ingin jadi arsitek karena ingin membangun gedung-gedung tinggi, pernah ingin jadi penulis karena baca donal bebek yang jadi penulis dan guru saya memuji karangan bahasa Indonesia saya waktu saya kelas 5 SD, pengen juga jadi penemu mesin mobil berbahan bakar air :p terakhir saya waktu SMA ingin jadi dokter, tapi gak masuk karena salah beli formulir SPMB, malah beli IPS, hehehehhe.

5.       Pendapat saya mengenai istri yang bekerja : pada dasarnya perempuan dan laki-laki setara, yang membedakan mah siapa yang paling taqwa,, dan hidup itu adalah pilihan kang, sebagai perempuan kami punya pilihan untuk bekerja atau tidak bekerja,, makanya niken berkeyakinan perempuan yang memilih bekerja itu bagus kang, dia bisa mengaplikasikan ilmunya, mendapat ilmu baru, berkontribusi dan bermanfaat bagi sekitarnya, selain dia juga punya penghasilan sendiri J nah kalau soal ISTRI yang bekerja, niken tetap setuju dia bekerja selama work-life balancenya ada. Dia bisa tetep menjalankan peran sebagai istri dan ibu sambil bekerja. Penghasilannya bisa buat nabung dan bantu suami, juga buat bantu keluarga dia (ortu dan adik2). Niken yakin rezeki mah sudah diatur sama Allah, dan kewajiban kita itu menjemputnya, nah karena niken adalah seorang anak dari ortu niken, ketika niken sudah mampu bekerja niken pengen banget membahagiakan dan berbakti pada mereka, dan berbakti pada orang tua bukan hanya sebelum menikah saja, tapi setelah menikah pun mereka tetap ortu niken J

6.       Hafal berapa surat? Dulu niken sempet ngapalin juz amma, tapi karena setelah jadi mahasiswa dan bekerja jarang diapalin lagi janten weeehhh lalupa deui, yaaahh, emang segala hal itu harus istiqomah dijalankan terus walau sedikit2 jangan sampai ditinggalkan biar ilmunya tetap nancap. Nuhun kang karena pertanyaan ini saya termotovasi lagi nih,, hehehe malu soalnya adik niken lebih hapal dibanding niken, padahal dulu dia diajarin sama niken. :p

7.       Haruuus atuuuhhh belajar islam mah, makanya niken rutin mentoring, 2 minggu sekali, atau sebulan sekali tergantung jadwalnya. Tapiiiiiii sejak niken di karantina di pertamina, susaaaahhh mau mentoring da jauh di bandung, dan sedih karena di pertamina mah gak disediakan belajar agama K janten paling sms an sama teteh mentor atau nelpon aja

8.       Cerita doraemon? Janten sizukaaaa … kemaren alasannya udah dikasih tau yaaa

PERTANYAAN DARI SAYA NYUSUL

2 Komentar »