nikenepr

Just another WordPress.com site

KISAH AISYAH

pada September 21, 2011

Dia gadis manis yang mengenakan gamis, wajahnya ayu dan selalu mengikuti ibunya belajar mengaji di Daruul suruur, pesantren yang cukup ternama di Nanjung, salah satu kecamatan di Kota Cimahi. Namanya Aisyah. Aku pertama mengenalnya sekitar tahun 2007 saat masih kuliah, saat itu dia dan Ibunya bertandang ke rumahku di Kecamatan Cibeber masih di Kota yang sama. Katanya hendak meminta daun sirih. Maklum, tumbuhan itu merambat subur di depan rumahku, dan hampir setiap hari kami kedatangan tamu hanya sekedar untuk meminta berhelai-helai daun sirih.Kami cukup senang membaginya, dari pada dipotong percuma lebih baik dibagikan agar bermanfaat.

 

Sejak pertama mengenalnya hari itu aku sudah mengetahui Aisyah adalah seorang tuna rungu, tapi kata Mama Aisyah itu kurang pendengaran bukan tuli, jadi jika hendak berbicara padanya harus menaikan volume suara, dia pasti akan mendengar walau tidak terlalu jelas.

 

Itu kali pertama aku bertemu dengannya, dan setelah itu aku lebih sering mendengar kisahnya dari Mama. Seperti tentang Aisyah yang menikah, dijodohkan dengan anak teman Bapaknya, seorang lelaki yang bekerja di Jakarta, sungguh besar hatinya mau menerima ‘kekurangan’ Aisyah dan meminangnya. Atau mendengar cerita Mama saat sarapan sebelum berangkat siaran tentang Aisyah yang kian hari kian cantik setelah menikah. Aku tersenyum membayangkan bahwa perempuan itu sedang jatuh cinta pada suaminya, tentulah aura kecantikannya semakin terpancar.

 

kemudian aku larut dalam kesibukan dengan skripsi dan persiapan menjelang wisuda. Obrolan tentang Aisyah terputus selama beberapa bulan. Entah aku yang terlalu sibuk sehingga hanya membicarakan hal-hal yang perlu saja dengan Mama, atau Mama yang memang tidak berniat membaginya denganku.

 

Sampai suatu hari, saat aku sedang rajin-rajinnya mengikuti tes kerja, Mama tiba-tiba memberi nasihat agar selektif dalam mencari pasangan hidup, dilihat bibit bebet bobotnya, tapi yang utama itu lihat agamanya. Karena keturunan, jabatan atau penghasilan tidak akan menjamin kebahagiaan, apalagi kalau hanya mengandalkan wajah yang tampan, pada pokoknya Mama berkata “Jangan asal cinta”

 

“Siap mah!” kataku “tenang, kan masih lama”

 

“Iya ini mah pelajaran aja buat teteh nanti. Kacontohan ku temen Mama sendiri, tapi ini mah bukan membicarakan orang, kita ambil kisahnya sebagai pelajaran ….” dan Mama meneruskan kisah tentang Aisyah.

 

Rupanya Allah memberi cobaan pada hambanya yang shalehah itu dengan pasangan yang tidak punya komitmen. Pergi meninggalkannya begitu saja tanpa kabar, tanpa nafkah. Padahal saat itu Aisyah sedang hamil muda.

 

“Sekarang Teh Aisyah sudah melahirkan, anak na meuni lucuuu teh, kasep, mata na meuni buleud mencrang (bulat cemerlang) ”

 

***

 

Hari ini sudah hampir dua tahun berlalu sejak Aisyah ditinggal suaminya tanpa nafkah, hanya sebuah pesan singkat yang diterima sebelum Aisyah melahirkan, jawaban singkat “iya entar” atas pertanyaan kapan ia akan menemui istrinya. Putranya telah beranjak balita dan sering diajak mengikuti pengajian bersama Ibu dan neneknya. Dan Aisyah, yang kini berusia 21 tahun, masih tetap manis mengenakan gamis.

 

 

Plaju, September 2011


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: