nikenepr

Just another WordPress.com site

kontempelasi : film horor

pada Oktober 18, 2011

Apa jadinya jika malam hari, kau hanya berdua saja di kamar dengan room-mate mu, dan dia telah tertidur pulas sementara televisi di kamar menampilkan adegan film horor?

 

Yang pasti aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari TV, padahal dihadapanku laptop menyala dan menampilkan BAB III KKW (tugas akhir pendidikan yg sedang kujalani) sedang menanti untuk segera diselesaikan.

 

Sebenarnya malam itu sudah aku alokasikan untuk menyelesaikan BAB III KKW sambil sesekali chat dengan seseorang. Saat sedang asyik mengetik, pandanganku sesekali melihat pada Televisi yang mulai menayangkan adegan-adegan yang cukup menarik perhatian: anjing-anjing penarik kereta salju tiba-tiba ditemukan mati. Helikopter ditemukan rusak. Dan adegan yang lebih menegangkan, saat hari mulai gelap, beberapa orang sedang bercengkrama di luar, salah satu dari mereka tiba-tiba ditarik secara paksa oleh seseuatu yang misterius diiringi teriakan-teriakan mengerikan.

 

Dan twala… akhirnya aku hanyut dalam ketegangan film 30 Days of Nights.

 

Film ini bercerita tentang vampir yang meneror penduduk kota Barrow di negara bagian paling utara Amerika yaitu Alaska. Diceritakan bahwa saat memasuki musim dingin kota ini secara rutin setiap tahun akan mengalami kegelapan (matahari tidak terbit) selama 30 hari. Kebanyakan penduduk memilih untuk menggunakan waktu 30 hari untuk berlibur di kota lain, hanya sebagian saja yang memilih untuk tetap tinggal. Tanpa mereka sadari, sekelompokvampir menyerang kota mereka, dan selama 30 hari kemudian kota Barrow menjadi tempat pembantaian penduduk oleh para Vampir.

 

Sebenarnya yang ingin aku ceritakan bukan tentang betapa dingin dan ngerinya film ini. Namun tentang rasa syukur sekaligus was-was yang aku rasakan setelah menyaksikan film ini.

 

Aku tidak bisa membayangkan jika para vampir itu benar-benar ada. Tentu akan sangat mengerikan, hidup dibawah tekanan dan bayang-bayang kematian karena diburu oleh Vampir. Setiap hari harus berpikir tentang strategi bertahan karena sulit untuk melawan akibat kekuatan yang tak seimbang. Melawan sama dengan bunuh diri. Bertahan sama dengan memperlambat kematian datang, karena cepat atau lambat penciuman mereka yang tajam akan menangkap baumu dan kau akan menjadi santapan mereka.

 

Vampir mungkin tidak nyata, tapi nyatanya banyak saudara-saudara kita yang hidup dalam tekanan dan penindasan. Kadang aku berpikir, “hari gini masih ada penjajahan?”. Astagfirullah, mungkin aku sering lupa pada saudara-saudaraku sesama muslim di Palestina yang setiap hari hidup dalam tekanan. Tembakan bisa meletus kapan saja, korbannya tak pandang bulu bisa orang tua atau anak-anak. Atau coba tengok para remaja di Irak yang tidak bisa bebas menikmati pendidikan dan hidup dalam bayang-bayang senapan dan tank setelah invasi Amerika yang katanya hendak mencari ‘senjata pemusnah massal’, justru malah mereka sendiri yang memusnakan ribuan rakyat Irak yang tak berdosa.

 

Film ini benar-benar membuatku berpikir jauh, sampai pada akhirnya aku bersyukur dengan kondisiku saat ini. Pagi aku bisa sarapan dengan tenang, siang bekerja dengan leluasa, dan sorenya aku bebas memilih untuk mengisinya dengan main sepeda, ikut senam aerobik atau menonton film korea. Aku bisa sekolah sampai sarjana, mendapat kesempatan bekerja, beribadah dengan merdeka, dan merencanakan masa depan dengan tenang. Kondisinya begitu nyaman bukan? aku tidak pernah merasakan tegangnya dikejar-kejar vampir atau senapan atau tank. aku yakin kamu pun tak pernah merasakannya. Bukankah ini sebuah nikmat?

 

Hey, pernahkah kau berhenti sejenak dan mensyukuri itu semua?

 

Bersyukur bahwa kita bisa menjadi bangsa yang merdeka. Bersyukur karena sejak lahir kita tidak pernah mengenal rasa was-was pada senapan atau bom yang dilancarkan Jepang atau Belanda atau siapapun yang menjadi penjajah. Bersyukurlah Pada Allah atas karunia dan nikmat yang luarbiasa ini, dan tak lupa doakan juga para pahlawan yang gugur memperjuangankan kemerdekaan negeri tercinta. Doakan mereka yang mengorbankan harta, jiwa dan raga untuk memastikan bahwa setiap anak di Indonesia dapat merasakan kemerdekaan, ketenangan dan bebas dari tekanan penindasan.

 

Jika saat ini kita merasa miris dengan kondisi bangsa yang yaaahhh begitulah… para politikus yang tak lebih dari sekadar poli-tikus (tikus yang banyak), hey pemuda, mungkin kalian sedih, tapi sedih saja tak cukup. Mari kita pertahankan kemerdekaan, perjuangankan persatuan, dan jadilah pemuda yang kreatif dan berbakti.

 

Mungkin kemarin kita adalah para pemuda yang malas dan terbuai kenyamanan, semoga sejak hari ini, sejak sadar bahwa semua nikmat ini adalah karunia dan akan dipertanggungjawabkan pada Allah, kita bisa menjadi lebih baik.

 

Dibawah ini adalah puisi tentang para pemuda yang meninggal di usia yang belia, demi sebuah cita-cita mulia : merdeka

KRAWANG-BEKASI

karya : Chairil Anwar

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

(1948)
Brawidjaja,
Jilid 7, No 16,
1957

 

Niken Rosady

17 Oktober 2011

Kamar No. 5 Wisma Flat Plaju-Palembang

23.03 wib

Menulis sambil setengah mengantuk.

 

 

catatan: puisi ini berhasil membuat aku menangis sesegukan waktu pertama membacanya sekita 1,5 tahun lalu. sangat mengena dan mengharukan.

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: