nikenepr

Just another WordPress.com site

Dua : kenal

pada Oktober 26, 2011

 Lanjutan dari catatan yang berjudul “Satu : Awal”

 

“Ini niken mana ya? Saya lupa.” Kurang lebih seperti itulah komentarmu di facebook tidak berapa lama setelah kita resmi berteman di dunia maya.

 

“ini Niken temennya kang Husna” dan seperti itulah kira-kira jawabanku.

 

Husna Nugrahapraja, sahabatmu itu, adalah penumpang kereta yang duduk sebangku denganku dalam perjalanan menggunakan Argo-Parahyangan dari Bandung ke Jakarta awal Desember 2009. Kami berkenalan, berbincang dan melanjutkan silaturahmi kami melalui Facebook (saat itu sedang booming) dan melalui facebooknya aku menemukan fotomu yang menghebohkan itu.

 

Entah mengapa saat melihat nama ‘Dani Badrazamani’, aku merasa ada sesuatu yang menarik di sana. Bisa jadi karena namamu adalah ‘Dani’ yang mengingatkan aku pada seorang sahabat semasa SMA, atau karena ‘Badrazamani’ yang rasanya terlalu unik untuk ada dua atau lebih di dunia ini, dan bisa pula karena komentarmu dalam foto itu yang menukil sebuah Hadist yang membuatku kagum: jaman sekarang masih ada laki-laki muda berusia 22-23 tahun, lulusan Institut terbaik di Indonesia, modern namun masih memegang teguh keislamannya bersama-sama dengan teman-temannya yang saling bersahut-sahutan saling menasehati dan saling mengingatkan. Luar biasa.

 

Kemudian, hanya dengan beberapa kali ‘klik’ pada menu di tampilan facebook, aku sudah mengirimkan permintaan pertemanan padamu. Untungnya kamu adalah tipe orang yang akan mengkonfirmasi siapapun yang mengirimkan permintaan pertemanan, sehingga tak perlu waktu lama kita pun ‘resmi’ berteman di Facebook.

 

“Niken kamu mirip Nikita Willy ya?” komentarmu suatu hari setelah kita berteman. Asal tahu saja, kamu bukan orang pertama yang mengatakannya, ada security di kantor pusat PT. Telkom, tempat aku magang di bulan Juli-September 2009 yang hampir setiap hari memanggilku dengan sebutan “nikita”. Sepupuku yang masih SMA pun mengatakan hal yang sama, “Nikita Willy berkerudung”.

 

Aku hanya tertawa menanggapinya. Lucu juga bagaimana orang-orang bisa memutuskan aku mirip seorang artis padahal sebenarnya tidak mirip. Sekilas mungkin iya. Jika difoto dari angle tertentu mungkin juga iya. Tapi aku lebih mirip Mama kok.

 

“Niken kamu teh penyiar radio apa?” tanyamu dalam sebuah pembicaraan. Aku penyiar di radio Paramuda, sebuah radio olahraga, dan aku seorang sportcaster, yang membacakan berita-berita olahraga. Tentunya pengetahuanku tentang olahraga pasti selalu update karena setiap pagi aku menyampaikan berita terbaru. Dan sejak itu kamu hampir selalu bertanya padaku tentang Persib.

 

Karena komentarmu itu dan sikapmu yang terbuka, pada akhirnya kita menjadi akrab di dunia maya. Denganmu—yang sebenarnya belum pernah kutemui—aku merasakan rasa betah berlama-lama online sampai tengah malam hanya demi saling berbalas komentar denganmu di sebuah status. Rasanya mengasyikan saling balas ‘poke’ denganmu sampai kita menamainya Pokemon, membaca semua note-mu dan aku tergugah untuk menulis note agar kamu membacanya, melihat aktifitasmu, mengirimkan permintaan pertemanan pada teman-temanmu, bertukar alamat YM agar bisa saling menyapa di sana, sampai mencari tahu siapa ‘Ade’ yang dimaksud dalam cerpen yang kamu rekomendasikan untuk ku baca. Akhirnya aku menyimpulkan dia adalah seseorang yang teramat spesial untukmu sampai kau buat cerpen yang menurut pengakuanmu dibuat dalam waktu 6 jam nonstop, “berhenti kalau sholat aja” ujarmu. Kamu tahu bagaimana perasaanku? Entah mengapa aku sedikit sedih.  Ternyata telah ada seseorang dalam hatimu meskipun statusmu ‘single’ yang kemudian aku tahu rupanya dia kasih tak sampai-mu😀 hihihi maaf aku tiba-tiba kegirangan saat itu.

 

“Niken kamu mah online wae” ujarmu mengomentari aktifitasku di dunia maya yang hampir selalu jadi yang pertama me-‘like’ atau mengomentari statusmu. Kupikir-pikir, benar juga ya, sebelumnya aku tidak pernah seperti ini, mengapa aku begitu tertarik untuk mencari tahu semua tentangmu? Apalagi kamu sebenarnya orang asing. Meskipun kita sama-sama berasal dari Bandung, namun kita bahkan belum pernah saling bertemu. Kamu ada di Lampung, bekerja di salah satu Pembangkit Listrik di sana, terpisah selat sunda dariku yang tinggal di Bandung dan masih berstatus mahasiswa tingkat akhir di Fakultas Hukum Unpad.

 

Aku seharusnya fokus pada skripsiku dan fokus untuk jadi penyiar yang baik di Bandung.

 

Tapi memang sulit untuk fokus.

 

“Niken minggu ini saya pulang lho ke Bandung” rasanya seperti baru memenangkan kejuaraan, aku begitu excited dengan rencana kedatanganmu. Dalam sms sebelumnya kita pernah membahas tentang Bakso Malang Karapitan. Kamu mengaku belum pernah mencobanya karena di dekat rumahmu ada tukang Bakso, Mas Eko yang menurutmu adalah penjual Bakso terenak. “Nanti pas saya pulang ke Bandung makan Bakso Malang Karapitan yuk.” Ajakmu.

 

“Asyiiikkk ditraktir” ujarku.

 

“Niken yang nraktir? asyiiikkkk” tanyamu jahil.

 

“Gak mau, ka dani dong yang nraktir, Niken bayar minumnya aja gimana?”

 

Dan kita sepakat. Saat kamu pulang nanti, kita akan bertemu untuk pertama kali di Bakso Malang Karapitan Jalan Merdeka.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: